Berislam dari Dalam (Rumah)

- April 06, 2020



Ketika banyak hal bisa dilakukan dari dalam rumah, kita malah kerepotan melakukan hal-hal yang harus dilakukan di dalam rumah. Ironi hari ini.

Ketika kita bisa bekerja, belajar, berkarya, berjualan, bertegur sapa, menonton film, menikmati musik, menyalurkan hobby, bahkan menunjukkan eksisensi dari dalam rumah, kita malah kerap tampak repot, tidak terampil, dan kurang persisten dalam urusan domestik. Ironi hari ini.

Sebentar saja dipaksa di dalam rumah, para orang tua merindu para guru anak-anak mereka, suami-suami berseteru dengan istri, para istri merasa tak dihargai di istananya sendiri, kita mulai merindui jalan-jalan plesiran ke pantai-pantai atau ke mall-mall, mengingat-ingat manisnya makan-makan keluarga, atau perjalanan-perjalanan yang (terlalu) jauh bersama orang tersayang, menostalgia seseruan bersama teman-teman, dan lainnya. Ini ekspresi apa?

Termasuk soal berislam. Tidak sama persis, tetapi ada miripnya.

Karena telah sekian lama kita membenar-benarkan diri dengan mendekatkan Islam yang makna gemerlap, semarak, gempita, akbar, gebyar, viral, dan hal semacamnya, kita langsung tergagap ketika kita dipaksa berislam di rumah. Seketika itu pula, kita tergagap.

Sulit sekali meminta kita untuk sholat berjamaah di rumah, misalnya. Padahal para ulama kita telah selesai membahas bagaimana berislam dari dalam rumah ketika ada wabah. Bahkan telah menuliskannya. Diskusi kita pada bab ini relatif berlama-lama dan cenderung mengabaikan referensi yang telah pernah ditulis. Kita tampak tak piawai berislam dari dalam rumah.

Sebentar saja, kita dipaksa berislam dari dalam rumah, ratapan kita sudah melangit maya. Rindu kabah, rindu madinah, membayangkan umrah yang dilarang sementara, memutarbalik kenangan berhaji sambil khawatir tak bisa berhaji lagi, haru mendengar adzan atau rindu menyimak kumandang adzan musholla sebelah yang kini tak ada lagi, dan ekspresi semacamnya. Ini ekspresi apa?.

Ekspresi itu selalu mewakili apa yang ada di dalam jiwa. Lalu apa yang kira-kira tersimpan di dalam jiwa ketika kita melihat ekspresi kita itu?.

Saya coba menuliskannya lain kali. Insyaallah. Perlu nyali untuk menuliskan itu.

Bantul, 7 April 2020.

Oleh: Eko Novianto 
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search