Cerita Syiah di Bandung

- April 19, 2020


Pertama kali aku mengenal Syiah dari teman kampusku, aku dan dia kuliah disebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.

Dia dulu bukan Syiah, tapi setelah membaca buku-buku tentang syiah dia jadi tertarik menjadi syiah, bahkan nama belakangnya diganti menjadi karbala.

Aku dan dia tidak terlalu akrab sebenarnya, aku lebih akrab dengan Rasum anak Subang, dia orangnya polos tapi kuat akidahnya. Bagi dia Sunni adalah yang terbaik. It's  ok, bukankah kita tidak punya hak untuk memaksa orang lain ikut dengan kayakinan kita.

Pernah suatu ketika, teman Syiahku mengajak maen ke daerah Geger Kalong Girang. Aku jadi teringat dengan Aa Gym, secara aku pernah ngaji dengan beliau. Dekat DT ( Daarut Tauhid ) ada sebuah yayasan, namanya yayasan Al-Jawad. Kesinilah teman Syiahku mengajak aku berkunjung.

Sesampai disana, aku bertemu dengan beberapa pemuda, mereka juga sepertinya orang-orang Syiah, mereka berdiskusi panjang lebar tentang banyak hal, semisal bagaimana cara mendapatkan beasiswa ke Iran.

Iran wabil khusus Qum memamg menjadi tujuan pemuda-pemuda itu untuk belajar Islam tentunya versi Syiah. Aku memilih diam, karena tidak banyak yang aku fahami.

Selain di Al-Jawad, Aku pernah singgah di SMU plus Muthahari di Jalan Kiara Condong, waktu dulu jalan ini dipenuhi oleh para abang tukang becak. Enggak tahu sekarang, karena aku sudah lama meninggalkan Bandung.

Di SMU Plus Muthahari ini, tepatnya disampingnya ada masjid Al-Munawaroh, disanalah kang Jalal berceramah. Kang Jalal ini besic nya sih pakar komunikasi, beliau S1 nya di Unpad, S2 di Amerika dan S3 nya di Australia. Tapi beliau belajar ngaji sejak kecil.

Beliau ngaji Nahwu Shorof, dan ilmu-ilmu klasik Islam lainnya.  Perjalanannya dalam "menemukan kebenaran " tentu saja versi kang Jalal,  menurutku "keren" , beliau lahir dalam cultur NU, sempat aktif di Muhammadiyah, lalu akhirnya memutuskan diri menjadi Syiah.

Dulu, kang Jalal suka ngasih ceramah di masjid Salman ITB, dulu waktu belum jadi Syiah. Setelah diketahui bahwa kang Jalal Syiah, ya begitulah, ramai-ramai orang menolak beliau ceramah.

Setelah maen ke Al-Jawad dan Muthahari, apakah aku tertarik kepada Syiah?

Ya aku tertarik kepada Syiah, tapi sekedar tertarik aja, aku cuma senang membaca buku tentang syiah, tapi tidak berminat menjadi Syiah.

Salah satu alasannya adalah dalam doktrin ajaran Syiah terutama Syiah dua belas Imam, ada kepercayaan tentang Imam yang maksum. Hal ini enggak masuk dalam fikiranku. Bagiku hanya kanjeng Nabi Muhammad SAW yang maksum, yang lain tidak.

Selain itu Syiah juga memperbolehkan nikah kontrak, ini agak gimana gitu? nikah kok kontrak, emang kosan?

Kemudian kegiatan menyakiti diri sendiri dalam acara memperingati sahidnya Sayyidina Husein. Ini juga ritual Syiah yang menurutku tidak sejalan dengan ajaran Islam. Bukankah Islam itu  keselamatan, baik keselamatan diri sendiri maupun orang lain. jadi mencederai diri sendiri dengan alasan kecintaan kepada Sayyidina Husein sungguh tidak masuk dalam fikiran akal sehatku.

Akhirnya, kami memutuskan tetap berteman walau secara keyakinan kami berbeda. Tapi terakhir-terakhir ini aku dapatkan kabar kalau temanku sudah mulai meninggalkan ajaran Syiah. Alhamdulillah.

Sampai sekarang aku masih mengkoleksi buku-buku yang ditulis oleh orang Syiah, bagiku membaca buku tentang Syiah tidak otomatis membuat orang menjadi Syiah. Tuhan kan kasih kita akal,  pakelah akal dengan benar. Jangan di pake buat yang macem-macem.

Jakarta Menjelang Siang.


-- Mukti Ali
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search