Mengapa Aku Memilih Menjadi Warga NU?

- April 17, 2020

Aku dilahirkan di keluarga yang berkecukupan, cukup tempat berteduh, cukup makan, cukup sekolah, sampai sekarang pun aku masih berkecukupan (alias dicukup-cukupin) ini adalah penerapan sifat qonaah.  Alhamdulillah.

Karena itulah yang pertama kali membentuk sifat keberagamaan diriku adalah ibu, beliau tidak banyak berkata, beliau memberikan uswah. Bagaimana seharusnya menjadi orang yang baik. Dari ibulah aku tahu kalo mengaji itu akan membuat hati menjadi tenang, pantesan, ibu selalu mengaji, suaranya lirih persis orang berbisik.

Dari ibu pula aku pertama kali tahu hurup Arab, ibulah yang mengajarkan aku "turutan" dulu dijamanku belum ada Iqro.

Dekat rumahku ada masjid, disanalah aku sholat berjamaah, nama imamnya pak mancik, orangnya "kutilang" kurus tinggi langsing" suaranya lantang, dari beliau aku hafal doa qunut. Beneran aku tidak pernah menghafal doa qunut, tapi karena sering dengar, akupun hafal, doa itu selalu aku baca sampai sekarang.

Setelah tamat SMP aku pindah ke Bandung, Alhamdulillah, aku tinggal di Sarijadi. Di sana ada masjid Al-Barokah, sebuah masjid dimana aku pernah menjadi remaja masjid.

Di masjid dekat SMA 15 Bandung itulah aku mengenal ustadz Cucu, beliau alumni pesantren di Garut, dari beliaulah aku tahu apa itu kitab kuning, beliau juga sering bercerita tentang kehidupan di pesantren.

Beliau mengajarkan kami kitab-kitab tipis seperti Jurumiah, Imrity, Amsil ( Tata Bahasa Arab ) Safinah ( Fiqh ) dst.

Dari ustadz Cucu lah aku semakin yakin bahwa menjadi warga NU adalah pilihan yang tepat, bisa jadi karena sejak kecil aku sudah tercelup dengan tradisi Aswaja. Jadi pas ketemu dengan ustadz Cucu Makin "klop" aja. Ibarat kereta api aku sudah menapaki rel yang tepat.

Selain ngaji di ustadz Cucu aku juga  pernah ngaji di pesantren DT asuhan Aa Gym, disana aku belajar kewirausahaan, lebih kepada soft skill ya, pembentukan karakter ulet, tidak pernah menyerah serta selalu mengingat Alloh dalam setiap keadaan.

Kebetulan Sarijadi tidak terlalu jauh dari pesantren Aa yang berlokasi di Geger Kalong Girang Bandung.

Ketika aku ngaji di Aa, pesantrennya masih imut, tempat wudhunya dari gentong plastik yang di bolongin. Sekarang pesantren Daarut Tauhid sudah besar dan luas. Dulu,  Aa Gym masih kurus, sekarang Aa udah gemukan.

Di DT ( Daarut Tauhid ) aku bertemu banyak orang wabil khusus mahasiswa, mereka suka iktikaf di masjid DT terutama malam Jum'at, sehabis mengikuti kajian malam Jum'at.

 Aa memang membuka pengajian umum, setiap malam Jum'at dan hari Ahad. Kajian Aa tidak bersifat Fiqh, karenanya kalau ada jamaah yang bertanya tentang Fiqh, Aa biasanya jawab enggak tahu. Kajian Aa lebih kepada pembersihan hati. Jagalah hati, jangan kau kotori, jagalah istri, jangan kau berlari.

Di dekat Geger Kalong Girang ada Geger Kalong Hilir, di sini tepatnya di masjid Telkom, ada pengajian yang di asuh oleh Ustadz Aam Amiruddin, biasa di panggil ustadz Aam. Aku juga ngaji disini.

Ustadz Aam adalah ustadz dari Persis ( Persatuan Islam) tapi walaupun dari Persis ustadz Aam tidak pernah tuh menjelek-jelekan orang NU, mengatakan kalo orang NU ahli Bid'ah, dan lain sebagainya, bahkan aku pernah mendengar ustadz Aam mengutip kitab Ihya dari Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Luar biasa.

Ala kulli Haal, akhirnya aku di takdirkan jadi TKI, disanalah aku rindu banget  dengan amalan-amalan warga NU, yasinan, Tahlillan, Marhabanan, Manaqiban, Haul, Ya Alloh, betapa aku merindukan semua itu.

Selepas jadi TKI, aku tinggal di Condet, dekat dengan masjid Al-Barriyah, Alhamdulillah, masjid itu jamaahnya mengamalkan apa yang aku amalkan selama ini.

Itu membuat aku semakin yakin,  mayoritas orang Islam Indonesia adalah "warga"  NU.

Sebagaimana  kita mafhumi bersama,  NU itu  ada dua, NU Struktural dan NU Cultural. nah mereka yang enggak pernah bergabung di kepengurusan NU adalah warga NU Cultural.

Amaliah ibadah serta keyakinan mereka di ajarkan secara turun temurun dari orang tua mereka, guru-guru mereka, guru-guru mereka lagi hingga akhirnya sampai kepada nabi Muhammad SAW.

Itulah  yang membuat aku memilih menjadi warga NU, karena aku yakin dan percaya apa yang di ajarkan oleh guru-guru mulia, ulama-ulama NU memang bersumber langsung dari nabi yang mulia.

Satu lagi, ngaji dengan ulama-ulama bikin adem, dan guyonan para ulama NU bikin hepi. Sehabis ngaji hati jadi ceria dan gembira.

Salam dari Condet.

-- Mukti Ali
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search